Sulitnya Menebak Pelaku Pembunuhan Dalam Film “Roubaix, Une Lumiere”

Setelah sekian bulan purnama, IFI akhirnya kembali menggelar nobar. Kali ini IFI bersama Mola menghadirkan film Prancis berjudul Roubaix, Une Lumiere.

Film berdurasi 129 menit ini memiliki alur cerita tentang kisah seorang kepala polisi di wilayah Roubaix yang menangani beberapa kasus, mulai dari pemerkosaan hingga pembunuhan seorang wanita tua.
83 tahun.

Sinopsis inilah yang membuat saya tertarik untuk menontonnya secara langsung. Tiket juga dapat diperoleh dengan mudah melalui pendaftaran menggunakan platform online. Saat memasuki IFI, ada backdrop besar yang dihadirkan khusus untuk para peserta nobar untuk bisa berfoto. Foto-foto tersebut dapat diunggah ke Instagram dan foto-foto yang menarik akan mendapatkan hadiah. Sayangnya saya belum sempat berfoto di depan poster besar tersebut.

Yeay dapat free voucher Mola 1 bulan

Menariknya, saat mendaftar dengan memindai barcode tiket, kita mendapatkan voucher berlangganan Mola selama 1 bulan. Sangat menyenangkan, terutama karena saya sudah sangat akrab dengan Mola. Film yang membuat saya terkesan adalah The Music of Silence yang menceritakan tentang kehidupan Andrea Bocelli (Amos Bardi) yang buta mata namun berpotensi menjadi penulis dan penyanyi musik yang hebat.

Kembali ke nobar Roubaix, Une Lumiere. Secara khusus saya sangat menikmati film ini.
Meski berdurasi dua jam 9 menit, tidak terasa membosankan. Alur cerita cukup cepat dengan berbagai kasus suguhan menunggu untuk diselesaikan.

Dalam setiap kasus kita seolah diajak untuk ikut menebak siapa pelaku sebenarnya. Kapolres Roubaix tentunya tidak sendiri, ia bekerja sama dengan tim lain yang memiliki keahlian di bidangnya masing-masing.

Salah satunya adalah Louise, seorang perwira polisi muda yang paling junior. Louise ini memiliki kepribadian yang cukup menarik. Sebagai pendatang baru di kota Roubaix, ia sering melakukan patroli malam meskipun tidak diminta dan tidak sedang bertugas malam.

Hal ini ia lakukan untuk mengenal kota tempat ia tinggal saat ini, mencoba mencari tahu bagaimana seluk beluk dan karakteristik warganya.

Dulu, kota Roubaix adalah kota dengan tingkat ekonomi dan pembangunan yang maju, namun setelah beberapa waktu, kenyataan tidak seindah pada awalnya. Kota Roubaix merupakan kota gelap dengan ekonomi rendah dan tingkat kriminalitas tinggi.

Salah satu kasus yang memperumit adalah ketika ada pembakaran di rumah kosong, tentu saja
tersangka tidak pernah ditemukan pelakunya. Belum selesai kasus pembakaran, muncul kasus pembunuhan di lingkungan yang sama.

Dua wanita yang menjadi saksi kebakaran dan sekaligus melaporkan kasus pembunuhan tersebut ternyata menyimpan rahasia yang mencengangkan. Keduanya adalah kandidat untuk membunuh seorang wanita tua berusia 83 tahun. Ada permainan emosi yang kuat ketika masing-masing diinterogasi. satu sama
Yang lain mulai saling memberi alibi dan mengklaim bahwa pasangan mereka bersalah.

Kapolsek Daoud dan Louise berusaha membuat keduanya mengakui kebenaran, bahkan sampai mengulang kejadian di tempat kejadian perkara (TKP). Keduanya memiliki kekuatan untuk menceritakan kisah dengan cara mereka sendiri. Pada akhirnya, mereka berdua setuju untuk mengakui kebenaran.

Saya pikir film ini benar-benar membuat Anda berpikir keras, mengenai pernyataan yang dibuat oleh para aktor (Claude dan Marie). Siapa di antara mereka yang jujur ​​dan siapa yang memutarbalikkan fakta? Karena keduanya memiliki porsi yang sama. Namun, dengan keahlian Doud dan Louise, akhirnya mungkin menemukan cara untuk membuat pelaku di balik pembunuhan itu mengakui kesalahannya.

Dari saya skor film ini adalah 8 dengan kompleksitas kasus dan juga permainan emosional. Sangat sulit untuk menebak pelaku yang tepat. Namun sayangnya ada beberapa kasus yang tidak dijelaskan lagi penyelesaian dan pengungkapan pelakunya, misalnya dalam kasus pemerkosaan dan juga motif pembakaran yang dilakukan oleh kedua wanita tersebut.

Sumber: Linda Erlina